Sejarah DISC
Pada
awal 1920an, seorang ahli psikologi flamboyan dari Amerika Serikat,William
Moulton Marston, mengembangkan teori untuk menjelaskan respon emosional
seseorang. Sampai pada masa itu, pekerjaan sejenis ini umumnya terbatas
pada orang-orang yang sakit secara mental atau perilaku kriminal, dan kali ini
Marston bermaksud mengembangkan ide ini mencakup kepribadian orang-orang biasa
atau normal.
Untuk
menguji teorinya, Marston membutuhkan berbagai cara mengukur kepribadian yang
ia coba ungkap. Penelitiannya dilakukan dengan cara mengukur empat faktor
penting, yaitu Dominance, Influence, Steadiness dan Compliance,
yang kemudian dikenal sebagai DISC.
Pada
1926, Marston menerbitkan penemuannya dalam sebuah buku terkenal yang berjudul The
Emotions of Normal People, yang juga berisikan sebuah deskripsi singkat
tentang berbagai pengujian dan percobaan yang telah dikembangkannya.
Pendekatan DISC
Sekarang
ini terdapat beberapa cara dan pendekatan untuk dapat mengevaluasi dan
memprediksi kecenderungan perilaku seseorang. Pada salah satu kutub, ada yang
sekedar menggunakan suatu test sederhana untuk menguji keterampilan dan
kemampuan; sebagai contoh suatu ujian atau test mengemudi. Sedangkan pada
bagian lainnya terdapat penggunaan test kepribadian, yang dibuat untuk
memberikan gambaran umum tentang gaya dan perilaku seseorang selengkap mungkin.
Pendekatan
DISC terletak di antara kedua kutub ini. Memang ini bukanlah sebuah alat test
kepribadian yang lengkap atau test psikometrik dalam pengertian teknis, alat
ini memberikan gambaran mengenai gaya seseorang yang dapat memprediksi
kecenderungan perilakunya di masa yang akan datang. Hal ini diperoleh dengan
mengevaluasi faktor-faktor kepribadian utama yang ada dalam diri seseorang.
DISC
ini memberikan banyak keuntungan dalam penggunaannya, jika batere test yang
lengkap sering berisi ratusan pertanyaan, dan membutuhkan waktu lama dalam
melengkapinya, kuesioner DISC hanya berisi dua puluh empat pertanyaan, dan
dapat diselesaikan dalam waktu hanya lima belas menit atau bahkan kurang.
Keuntungan lainnya ada pada interpretasinya; pada test lengkap merupakan
hasil pekerjaan para ahli atau expert-nya, hasil DISC dapat
dikerjakan dengan menggunakan suatu software dan dapat
dikerjakan dengan otomatisasi, dengan demikian waktu pelaporan yang dibutuhkan
juga akan jauh lebih cepat.
Apa yang dihasilkan
DISC?
Pada
dasarnya, DISC mengukur empat faktor perilaku seseorang, yaitu:Dominance,
Influence, Steadiness dan Compliance. Ini
merupakan suatu konstruksi yang cukup kompleks, dan tidak mudah digambarkan
dengan satu kata saja, tetapi dapat dikelompokkan sebagai unsur ketegasan (assertiveness),
komunikasi (communication), kesabaran (patience) dan
struktur (structure).
Kekuatan
sesungguhnya dari DISC datang dari kemampuannya menginterpretasi hubungan
antara faktor-faktornya. Contoh dimana seorang dengan D tinggi(highly
Dominant) yang juga mempunyai tingkat I yang
tinggi (high level of Influence), mereka akan berperilaku
berbeda dengan orang yang D tinggi tetapi tanpa I.
Faktor-faktor kombinasi seperti ini secara teoritis akan menghasilkan jutaan
profil berbeda.
Menggunakan
informasi ini, DISC tentunya dapat digunakan untuk mendeskripsikan cara
pendekatan atau gaya yang dikembangkan seseorang, motivasi dan termasuk hal
yang tidak disukainya (dislike), kekuatan dan kelemahannya, serta
pandangan-pandangan mereka terhadap orang lain. Lebih jauh hal ini
tentunya dapat membantu untuk memperkirakan reaksi seseorang pada situasi dan
keadaan yang sedang dihadapinya.
Kesimpulan
Dengan mengetahui
potensinya, maka seseorang dapat mengembangkan diri seoptimal mungkin guna
meraih sukses dalam karir dan bisnis. Akan tetapi walaupun tes DISC sangat efektif tapi menurut saya tes ini tidak 100 % tepat. Buktinya ada teman saya yang berinisial T. Setelah dites DISC hasilnya dia adalah tipe C (Compliance) tapi dalam kehidupan sehari-hari terutama di kampus dia pintar mempengaruhi orang lain dan sangat aktif berbicara. Berarti tipe kepribadian dia juga condong ke tipe I (Influence). Ada juga teman saya yang setelah dites DISC hasilnya dia termasuk tipe S (Steady) tapi dalam pergaulan di kampus dia mempunyai selera humor yang positif. Buktinya dia bisa membuat teman2 yang lain tertawa (pinter ngabodor). Berarti bisa saja dia masuk tipe Influence. Jadi kesimpulannya sehebat apapun Teori-teori yang diciptakan manusia pasti tidak akan 100 persen sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Ya namanya juga manusia pasti ada salahnya guys:) Jadi saran saya jangan terlalu mempercayai atau mengkultuskan teori DISC ini secara berlebihan karena semua manusia itu unik dan yang paling tau bagaimana kepribadian kita sebenarnya hanyalah Allah swt yang menciptakan manusia. Sekian. Wallohhualam.

0 komentar:
Posting Komentar