Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan kepada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti bodi untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Imunisasi juga merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit. Kita mendengar hal ini dari dokter, koran, radio, brosur di klinik, atau teman-teman kita. Tetapi, apakah Anda pernah berpikir ulang tentang tujuan imunisasi? Pernahkah anda meneliti lebih lanjut terhadap isu-isu dan cerita mengenai sisi lain imunisasi yang tidak pernah diinformasikan oleh dokter? Serangkaian imunisasi yang terus digiatkan hingga saat ini oleh pihak-pihak terkait yang katanya demi menjaga kesehatan anak, patut dikritisi lagi baik dari segi kesehatan maupun syariat islam. Teori pemberian vaksin yang menyatakan bahwa “memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan penyakit yang lebih besar.” Benarkah?
Imunisasi adalah pemberian
kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan "sesuatu"
ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau
berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal
atau resisten.
Imunisasi terhadap suatu penyakit
hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja,
sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
Intinya kalau memang imunisasi betul betul diperlukan, mengapa tidak memasukkan
ribuan jenis virus tadi yang telah dilemahkan ? Dalam logika Islam,
mencegah penyakit adalah bukan dengan cara memasukkan setiap varian virus baru
yang dilemahkan, tapi dengan cara meningkatkan kemampuan alami tubuh untuk
membuat antibodi.
Intinya adalah kita harus memakan
makanan yang halal dan thayyib, kembali pada yang natural, jangan banyak
memakan makanan 'sintetis'. Madu, kurma, habbatussauda dan segala macam herbal dengan
proporsi yang cukup sebenarnya sangat memadai untuk mencegah
penyakit.Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut, “Sesungguhnya Allah swt telah
menurunkan penyakit dan menurunkan obat, serta menyediakan obat bagi setiap
penyakit, maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram. “ (HR
Abu Daud).
Bandingkan dengan pertanyaan
sahabat ketika ia bertanya kepada Rosulullah saw tentang obat yang berasal dari
khomr, maka Rosulullah saw menjawab, “Sesungguhnya ia (khomr tersebut) bukanlah
obat, akan tetapi penyakit.“ (HR. Muslim). Atsar Ibnu Mas’ud ra,
bahwasanya ia berkata, “Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan kesembuhan kamu di
dalam sesuatu yang diharamkan.” (HR. Bukhari).
Tiga Mitos Menyesatkan
Vaksin begitu dipercaya sebagai
pencegah penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya 3 mitos yang sengaja
disebarkan. Padahal, hal itu berlawanan dengan kenyataan efektif melindungi
manusia dari penyakit. Kenyataan: Banyak penelitian medis mencatat kegagalan
vaksinasi. Campak, gabag, gondong, polio, terjadi juga di pemukiman penduduk
yang telah diimunisasi. Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabah campak terjadi
di sekolah yang punya tingkat vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO juga
menemukan bahwa seseorang yang telah divaksin campak, punya kemungkinan 15 kali
lebih besar untuk terserang penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.
Pertama, Imunisasi Menurunkan
Jumlah Penyakit.
Kebanyakan penurunan penyakit
terjadi sebelum dikenalkan imunisasi secara masal. Salah satu buktinya,
penyakit-penyakit infeksi yang mematikan di AS dan Inggris mengalami penurunan
rata-rata sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada vaksinasi. The British
Association for the Advancement of Science menemukan bahwa penyakit
anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940, dan hal itu
terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.
Imunisasi benar-benar aman bagi
anak-anak Yang benar, imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya,
pada tahun 1986, kongres AS membentuk The National Childhood Vaccine Injury
Act, yang mengakui kenyataan bahwa vaksin dapat menyebabkan luka dan kematian.
Buktinya ada DISINI
Kedua, Racun dan Najis ? Tak
Masuk Akal.
Apa saja racun yang terkandung
dalam vaksin? Beberapa racun dan bahan berbahaya yang biasa digunakan seperti
Merkuri, Formaldehid, Aluminium, Fosfat, Sodium, Neomioin, Fenol, Aseton, dan
sebagainya.
Sedangkan yang dari hewan biasanya
darah kuda dan babi, nanah dari cacar sapi, jaringan otak kelinci, jaringan
ginjal anjing, sel ginjal kera, embrio ayam, serum anak sapi, dan sebagainya.
Sungguh, terdapat banyak persamaan antara praktik penyihir zaman dulu dengan
pengobatan modern. Keduanya menggunakan organ tubuh manusia dan hewan, kotoran
dan racun (informasi ini diambil dari British National Anti-Vaccination
league).
Dr. William Hay menyatakan, “Tak
masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak
kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. Tubuh punya
cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika
dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya
sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh
menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.”
(Immunisation: The Reality behind the Myth).
Ketiga, Makhluk Mulia Vs
Hewan.
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya. Manusia merupakan khalifah di bumi, sehingga merupakan ashraful
makhluqaat (makhluk termulia). Mengingat keunggulan fisik, kecerdasan, dan jiwa
secara hakiki, manusia mengungguli semua ciptaan Allah yang ada. Manusia
merupakan makhluk unik yang dilengkapi sistem kekebalan alami yang berpotensi melawan
semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.
Fakta Mengerikan
Ada beberapa fakta mengerikan yang
harus anda ketahui tentang imunisasi. Antara lain sebagai berikut:
1).
Beberapa vaksin mengandung racun seperti air raksa (merkuri), almunium dan
formalin. 2). Di tahun 1998, Pemerintah Perancis menghentikan program
vaksinasi berbasis sekolah yang memberikan vaksin Hepatitis B kepada
anak-anak usia sekolah karena kasus multiple-sklerosis telah dikaitkan
dengan vaksin tersebut dan lebih dari 600 kasus imunitas dan persyarafan
telah dilaporkan.
3). Beberapa vaksin dibuat
menggunakan bahan yang berasal dari jaringan manusia dari janin
yang digugurkan. 4). Kebanyakan negara mewajibkan bahwa saat anak
berusia 5 tahun, ia sudah harus menerima 33 dosis dari 10 vaksin. 5).
Para dokter hanya melaporkan kurang dari 10 persen kejadian buruk yang
berkaitan dengan vaksinasi dan/atau sesudah vaksinasi.
Selain fakta mengerikan di atas,
ada bahan-bahan tambahan lain terdapat dalam vaksin antara lain; Alumunium.Logam
ini ditambahkan ke dalam vaksin dalam bentuk gel atau garam sebagai pendorong
terbentuknya antibodi. Alumunium telah dikenal sebagai penyebab kejang,
penyakit alzheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Logam ini biasanya
digunakan pada vaksin-vaksin DPT, dan Hepatitis B.
Benzetonium Khlorida. Benzetonium
adalah bahan pengawet dan belum dievaluasi keamanannya untuk dikonsumsi oleh
manusia. Biasa digunakan sebagai campuran vaksin anthrax terutama diberikan
kepada para personil militer. Etilen Glikol. Biasa digunakan
sebagai bahan utama produk antibeku dan digunakan sebagai pengawet vaksin DaPT,
polio, Hib dan Hepatitis B. Formaldehid. Bahan kimia yang
terkenal sebagai zat karsinogenik (penyebab kanker) yang biasanya digunakan
dalam proses pengawetan mayat, fungisida/insektisida, bahan peledak dan pewarna
kain.
Selain beracun, menurut Sir Graham
S. Wilson pengarang buku The Hazards of Immunization formalin tidak
mamadai sebagai pembunuh kuman sehingga maksud penggunaannya sebagai penonaktif
kuman dalam vaksin menjadi tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya adalah kuman
yang seharusnya dilemahkan dalam vaksin tersebut malah menguat dan menginfeksi
penggunanya.
Gelatin. Bahan yang
dikenal sebagai alergen (bahan pemicu alergi) ini banyak ditemukan dalam vaksin
cacar air atau MMR. Bagi kaum Muslim, gelatin menimbulkan isu tambahan karena
biasanya bahan dasarnya berasal dari babi. Glutamat. Bahan
yang digunakan dalam vaksin sebagai penstabil terhadap panas, cahaya dan
kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini banyak dikenal sebagai penyebab reaksi
buruk kesehatan dan ditemukan pada vaksin varicella.
Neomisin. Antibiotik
ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan kuman di dalam biakan vaksin. Neomisin
menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan sering ditemukan dalam vaksin
MMR dan polio. Fenol. Bahan yang berbahan dasar tar batu bara
yang biasanya digunakan dalam produksi bahan pewarna non makanan, pembasmi
kuman, plastik, bahan pengawet dan germisida. Pada dosis tertentu, bahan ini
sangat beracun dan lebih bersifat membahayakan daripada merangsang sistem
kekebalan tubuh sehingga menjadi berlawanan dengan tujuan utama pembuatan
vaksin. Fenol digunakan untuk pembuatan beberapa vaksin termasuk vaksin tifoid.
Streptomisin. Antibiotik
ini dikenal menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan biasa ditemukan
dalam vaksin polio. Timerosal/Merkuri. Bahan yang sangat
beracun yang selama beberapa puluh tahun digunakan pada hampir seluruh vaksin
yang ada di pasaran. Padahal timerosal/merkuri adalah salah satu bahan kimia
yang bertanggung jawab atas tragedi Minamata di Jepang yang menyebabkan
lahirnya bayi-bayi yang cacat fisik dan mentalnya.
Apa Kata Para Ilmuwan Tentang
Vaksinasi?
“Satu-satunya vaksin yang aman
adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.” (Dr. James R. Shannon, mantan
direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika).
“Vaksin menipu tubuh supaya tidak
lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan
sistem imun.” (Dr. Richard Moskowitz, Harvard University).
“Kanker pada dasarnya tidak dikenal
sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200
kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak
mendapatkan vaksinasi sebelumnya.” (Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris).
“Ketika vaksin dinyatakan aman,
keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”.
(dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional).
“Kasus polio meningkat secara cepat
sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan
tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.” (Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang
kongres AS tahun 1962).
“Sebelum vaksinasi besar besaran 50
tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit
autoimun, dan kasus autisme.” (Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional).
“Vaksin bertanggung jawab terhadap
peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem
imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan
kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi.
Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh
dunia saat ini.” (Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional
Amerika).
“Tak masuk akal memikirkan bahwa
Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses
tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri
yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan
mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan
mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan
memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” (Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation:
The Reality behind the Myth”).
Mari Kembali ke Syariat Islam
Manusia merupakan makhluk yang
punya banyak kelebihan. Terdapat perbedaan yang mencolok antara manusia dengan
hewan tingkat rendah. Apa yang dapat diterapkan padanya tidak cocok bagi hewan,
demikian juga sebaliknya. Namun, orang-orang atheis menyamakan hewan dengan
manusia, sebab mereka menganut teori evolusi manusia melalui kera yang sangat
“menjijikkan”.
Oleh karena itu, mereka percaya
bahwa apa yang dimiliki hewan dapat secara aman dimasukkan ke dalam tubuh
manusia. Jadi, sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah disuntikkan ke
dalam tubuh manusia. Logika setan ini adalah hal yang amat menjijikkan menurut
Islam.
Imunisasi digembar-gemborkan
sebagai suatu bentuk keajaiban pencegahan penyakit, padahal faktanya cara itu
tidak lebih hanya sebagai proyek penghasil uang para dokter dan perusahaan
farmasi. Dalam kenyataannya, imunisasi lebih banyak menyebabkan bahaya daripada
kesehatan. Bahkan, mengacaukan proses-proses alami yang ada dalam ciptaan-Nya.
Nah, dengan paparan singkat ini, orang tua mana yang merasa tidak takut untuk
memberikan imunisasi pada anaknya?
Saudaraku, masihkah kita meyakini
bahwa ada kebaikan dibalik program-program yang disebarkan musuh-musuh Islam?
Ketauhilah, imunisasi adalah salah satu program di antara beratus-ratus program Zionis Yahudi untuk melumat habis umat Islam dari muka bumi ini. Bila benar imunisasi
bisa mencegah anak-anak kita dari berbagai penyakit, tapi mengapa puluhan ribu
anak-anak perempuan di Afrika menjadi mandul akibat imunisasi massal yang
dilakukan Amerika? [untuk lebih jelas Anda bisa baca buku, “Di Bawah
Bayang-bayang Gurita” karya J.D. Gray].
Jika benar-benar imunisasi
bertujuan untuk menangkal berbagai penyakit, tapi mengapa masih banyak
anak-anak yang setelah diimunisasi tiba-tiba badannya menjadi panas dan lemah tak
berdaya? Ini fakta yang tak bisa disangkal lagi. Ini kejadian yang terjadi di
salah satu perkampungan di Jakarta sekitar tahun 2006 lalu. Malahan di Bekasi ada dua balita yang meninggal setelah divaksin campak dan polio. (lihat gambar) Ini sungguh sangat memprihatinkan dan anehnya pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan seakan diam saja menghadapi masalah ini.
Seperti yang di ungkapkan oleh dr. Rini Syafri, M.Si memberikan kesimpulan bahwa vaksinasi hanya menjadi mimpi buruk bagi dunia akibat berlakunya sistem sekuler. Bahkan kesadaran masyarakat AS dan negara Eropa seperti Perancis, Kanada, Inggris, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi. Bagi para orang tua yang telah terlanjur membiarkan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sebelum terlambat mari kita hentikan gerakan yang dipelopori oleh Kaum Yahudi ini.
Dan bahkan kita nanti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta,ala tentang keturunan kita. Jangan sampai kita terperosok ke jalan yang dapat menjerumuskan kita pada siksa Nya. Mari kita segera bertobat atas apa yang telah kita perbuat pada buah hati kita. Fakta lain telah banyak yang menyatakan bahwa anak-anak tanpa imunisasi ternyata memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan kecerdasan yang lebih baik pula. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Quran Surat At-Tiin ayat 4 : “Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi sistem kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya. Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat Islam yang berupa perintah dan larangan dari Al Qur'an dan Hadis, insya Allah kesehatannya akan terjaga dengan baik.
Tuntunan Islam dalam masalah kesehatan jasmani dan rohani sudah sangat jelas dan tidak ada sedikitpun yang diragukan. Islam telah merawat dan mendidik umatnya untuk merawat dan meningkatkan kesehatannya (antibodi) dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib yang baik bagi tubuh, sekaligus melarang makan dan minum barang yang diharamkan, kotor dan najis. Mari memohon bersama kepada Allah swt agar kita semua dibukakan hidayah untuk selalu menerima jalan terbaik dan menjauhi hal-hal yang mungkar. Dan semoga teman-teman sekalian mau menerima dan mengerti akan berita ini. Mari saudara2ku jangan ragu untuk mengatakan “tidak” pada imunisasi. Wallahualam
Sumber :
“Di Bawah Bayang-bayang Gurita” karya Jerry D. Gray
http://en.wikipedia.org/wiki/National_Childhood_Vaccine_Injury_Act 


0 komentar:
Posting Komentar