Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua
pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu diikuti dan menjadi rujukan bagi setiap muslim dalam segala aspek kehidupan.
Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan
pengembangan kepribadian seorang muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh
Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan
tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.
Persepsi masyarakat tentang pribadi
muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga
seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin
menjalankan Islam dari aspek ubudiyah (ibadah) saja, padahal itu hanyalah salah satu aspek
yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi
muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus
dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Bila disederhanakan,
sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada
pribadi seorang muslim yang disebut dengan 10 Muwashofat. Check this out guys!
1. Salimul Aqidah (Good Faith)
Akidah adalah asas dari amal.
Amal-amal yang baik dan diridhai Allah lahir dari aqidah yang bersih. Dari sini
akan lahir pribadi-pribadi yang memiliki jiwa merdeka, keberanian yang tinggi,
dan ketenangan. Sebab, tak ada ikatan dunia yang mampu membelenggunya, kecuali
ikatan kepada Allah swt. Seorang kader dakwah yang baik akan selalu menjaga
kemurnian aqidahnya dengan memperhatikan amalan-amalan yang bisa mencederai
keimanan dan mendatangkan kemusyrikan. Sebaliknya, selalu berusaha melakukan
amalan-amalan yang senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah
swt.
Aplikasi: Senantiasa bertaqorrub
(menjalin hubungan) dengan Allah, ikhlas dalam setiap amal, mengingat hari
akhir dan bersiap diri menghadapinya, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah,
dzikrullah di setiap waktu dan keadaan, menjauhi praktik yang membawa pada
kemusyrikan.
2. Shahihul Ibadah (Right
Devotion)
Ibadah baik wajib dan sunnah,
merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Allah swt. Kedekatan seorang
hamba ditentukan oleh intensitas ibadahnya. Ibadah yang benar (right devotion) menjadi
salah satu pintu masuk kemenangan dakwah. Sebab, ibadah yang dilakukan dengan
ihsan akan mendatangkan kecintaan Allah swt. Dan kecintaan Allah akan
mendatangkan pertolongan.
Aplikasi: Menjaga kesucian jiwa,
berada dalam keadaan berwudhu di setiap keadaan, khusyu dalam shalat, menjaga
waktu-waktu shalat, biasakan shalat berjamaah di masjid, laksanakan shalat
sunnah, tilawah al-Qur’an dengan bacaan yang baik, puasa Ramadhan, laksanakan
haji jika ada kesempatan.
3. Matinul Khuluq (Akhlaqnya
tegar)
Seorang kader dakwah harus
ber-iltizam dengan akhlaq islam. Sekaligus memberikan gambaran yang benar dan
menjadi qudwah (teladan) dalam berperilaku. Kesalahan khuliqiyah pada seorang
kader dakwah akan berdampak terhadap keberhasilan dakwah.
Aplikasi: Tidak takabur, tidak
dusta, tidak mencibir dengan isyarat apapun, tidak menghina dan meremehkan
orang lain, memenuhi janji menghindari hal yang sia-sia, pemberani, memuliakan
tetangga. Bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjenguk orang sakit, sedkit
bercanda, tawadhu tanpa merendahkan diri.
4. Qadirul’alal Kasbi (Kemampuan
berpenghasilan)
Kita mengenal prinsip dakwah yang
berbunyi ”shunduquna juyubuna (sumber keuangan kita dari kantong kita
sendiri)”. Yang berarti setiap kader harus menyadari bahwa dakwah membutuhkan
pengorbanan harta. Oleh karena itu setiap kader dakwah harus senantiasa bekerja
dan berpenghasilan dengan cara yang halal. Tidak menjadikan dakwah sebagai
sumber kehidupan. Karena itu pribadi seorang muslim tidaklah mesti miskin,
seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa
menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan
yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam
Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi
Aplikasi: Menjauhi sumber
penghasilan haram, menjauhi riba, membayar riba, membayar zakat, menabung meski
sedikit, tidak menunda hak dalam melaksanakan hak orang lain, bekerja dan
berpenghasilan, tidak berambisi menjadi pegawai negeri. Mengutamakan produk
umat Islam, tidak membelanjakan harta kepada non-muslim.
5. Mutsaqaful Fiqri (Pikirannya
intelek)
Intelektualitas seorang kader
dakwah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah. Sejarah para nabi
juga memperlihatkan hal itu. Kita melihat bagaimana ketinggian intelektualitas
Nabi Ibrahim, dengan bimbingan wahyu, mampu mematahkan argumentasi Namrud.
Begitu pula kecerdasan Rasul dalam mengemban amanah dakwahnya, sehingga ia
digelari fathonah (orang yang cerdas).
Aplikasi: Baik dalam membaca dan
menulis. Upayakan mampu berbahasa Arab, menguasai hal-hal tertentu dalam
masalah fiqih seperti shalat, thaharah dan puasa, memahami syumuliatul Islam,
memahami ghazwul fikri, mengetahui problematika kaum nasional dan
internasional, menghafal al-Qur’an dan hadits, memiliki perpustakaan pribadi
sekecil apapun.
6. Qawiyul Jismi (Fisiknya kuat)
Beban dakwah yang diemban para
kader dakwah sangat berat. Kekuatan ruhiyah dan fikriyah saja tidak cukup untuk
mengemban amanah itu. Harus ditopang oleh kekuatan fisik yang prima. Sejumlah
keterangan al-Qur’an dan Hadits menjelaskan betapa pentingnya aspek ini.
Aplikasi: Bersih pakaian, badan dan
tempat tinggal, menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah, berolahraga,
bangun sebelum fajar, tidak merokok, selektif dalam memilih produk makanan,
hindari makanan/minuman yang menimbulkan ketagihan, puasa sunnah, memeriksakan
kesehatan.
7. Mujahidu Linafsihi (Bersungguh-sungguh)
Bersungguh-sungguh adalah salah
satu ciri orang mukmin. Tak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa kesungguhan.
Kesadaran bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat, dan kehidupan
abadi adalah kehidupan akhirat, akan melahirkan kesungguhan dalam menjalani
kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi segala yang
haram, menjauhi tempet-tempat maksiat, memerangi dorongan nafsu, selalu
menyertakan niat jihad, hindari mengkonsumsi yang mubah, menyumbangkan harta
untuk amal islami, menyesuaikan perkataan dengan perbuatan, memenuhi janji,
sabar, berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
8. Munazham fi syu’unihi (Teratur
dalam semua urusannya)
Seorang kader dakwah harus mampu
membangun keteraturan dalam kehidupan pribadi dan keluarganya agar bisa
menghadapi persoalan umat yang rumit dan kompleks.
Apalikasi: Memperbaiki penampilan,
jadikan shalat sebagai penata waktu, teratur di dalam rumah dan tempat
kerjanya, disiplin dalam bekerja, memprogram semua urusan, berpikir secara
ilmiah untuk memecahkan persoalan, tepat waktu dan teratur.
9. Haritsun ’ala waqtihi (Efisien
menjaga waktu)
Seorang muslim harus mampu mengatur waktunya dengan baik (good time management). Untuk menggambarkan betapa
pentingnya waktu, ada pepatah yang mengatakan ”waktu ibarat pedang”. Bila tak mampu
dimanfaatkan maka pedang waktu akan menebas leher kita sendiri. Seorang kader
harus mampu seefektif mungkin memanfaatkan waktu yang terus bergerak. Tak boleh
ada waktu yang terbuang percuma.
Aplikasi: Bangun pagi, menghabiskan
waktu untuk belajar dan membaca buku yang bermanfaat, mempersingkat semua urusan (tidak bertele-tele). Mengisi
waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, tidak tidur setelah fajar.
10. Nafi’un Lighairihi (Berguna
bagi orang lain)
Rasul menggambarkan kehidupan
seorang mukmin itu seperti lebah yang akan memberi manfaat pada lingkungan
sekitarnya. Seorang muslim harus bisa memberikan kontribusi bagi orang lain dan
lingkungan sekitarnya. Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Kader
dakwah memberi manfaat karena setiap ucapan dan gerakannya akan menjadi teladan
bagi sekitarnya.
Aplikasi: Melaksanakan hak orang
tua, ikut berpartisipasi dalam kegembiraan, membantu yang membutuhkan, menikah
dengan pasangan yang sesuai, komitmen dengan adab Islam di dalam rumah,
melaksanakan hak-hak pasangannya (suami-istri), melaksanakan hak-hak anak,
memberi hadiah pada tetangga, mendo’akan yang bersin.

0 komentar:
Posting Komentar