Mengapa intelektual bangsa yahudi
lebih unggul dibandingkan bangsa yang lainnya? ini bukan sebuah pertanyaan yang
pertama kali muncul dalam catatan sejarah manusia. Kita semua tahu bahwa saat
ini bangsa Yahudi telah menguasai sekte-sekte penting dalam kehidupan. Dalam
bidang teknologi, sosial, ekonomi, kedokteran, dan dalam bidang-bidang lainnya
Yahudi menjadi fasilitator keberlangsungan hidup manusia di abad ke-20 ini.
Kecemerlangan dalam berfikir,
menelaah, berprinsip, berimajinasi, berdialektika, dan analisa. Merupakan ciri
keunggulan yang mereka punya sehingga membedakan antara orang Yahudi dengan
umat lain. Terlepas dari konflik akidah dan kemanusiaan yang terjadi diantara
kubu umat Islam, Kristen dan Yahudi, nyatanya kita tidak bisa berlepas diri dari
fakta dan data yang ada, bahwa di dalam sektor-sektor kehidupan ada
keterlibatan tangan Yahudi yang melahirkan karya-karya intelektual, serta
memotori berbagai bentuk kemudahan dalam aktivitas kehidupan manusia.
Seperti Microsoft Word yang
saya gunakan untuk menulis artikel yang sedang anda baca, adalah hasil
kerja Bill Gates yang merupakan seorang Pengusaha keturunan bangsa
Yahudi. Kemudian internet yang memudahkan tulisan ini sampai kepada
media-media publik, ialah hasil kontribusi keilmuan seorang bangsawan Yahudi
bernama Leonard Kleinrock juga Mike Lazaridi sorang Yahudi yang
sukses menggemparkan dunia lewat Blackberry yang saat ini kita
nikmati, Thomas Alfa Edison keturunan Yahudi penemu bola
lampu listrik, gramophone, serta kamera film, dimana ketiga penemuannya
membangkitkan industri-industri besar listrik, rekaman serta industri film, yang
akhirnya mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia, Mark Zuckerberg founder Facebook (social media) dan masih banyak
nama-nama intelektual Yahudi lainnya yang berpengaruh dalam tinta emas ilmu
pengetahuan abad ini.
Meskipun tak menafikan bahwa
dibalik karya intelektual mereka, itu merupakan hasil tongkat estafet keilmuan
yang mereka pelajari dari ilmuwan-ilmuwan muslim terkemuka, yang hidup jauh
beberapa abad lalu sebelum eksistensi Yahudi menguasai dunia. Sangat disayangkan,
tongkat estafet ini justru tidak dimanfaatkan oleh generasi muslim selanjutnya,
keterfokusan umat islam pada polemik yang “itu-itu” saja.
Membuat umat islam seolah jauh dari kontribusi ilmu pengetahuan global, padahal
keterlibatan dan peran umat muslim pada pengembangan bidang-bidang tersebut
memiliki peran yang sangat vital untuk mengembalikan kegemilangan dinul islam
dan juga kebangkitan islam sebagai “Rahmatanlil ‘aalamin”.
Jadi ketika islam dikatakan sebagai
“Rahmatanlil ‘aalamin” ,sudah seharusnya islam menguasai seluruh aspek-aspek
kehidupan yang terstruktur di dalamnya. Namun pada kenyataannya, orang Yahudi
jauh lebih tanggap dalam menyadari pentingnya kecerdasan intelektual sehingga
mereka melangkah lebih cepat lalu berupaya mengembangkan kecerdasan otak, daya
fikir, banyak melakukan penelitian, pembaharuan, berbagai macam ujicoba, hingga
akhirnya menghasilkan penemuan spektakuler dan ilmiah di berbagai bidang yang
menggugah jutaan manusia di dunia.
Dalam buku karya Abdul Waid yang
berjudul “Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi” beliau
menjelaskan, jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa di eropa dan orang-orang
Indonesia kecerdasan orang-orang Yahudi masih jauh lebih unggul. Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog bernama Cochran menemukan bukti
bahwa jika dibandingkan dengan orang-orang di Eropa rata-rata IQ orang Yahudi
adalah 107,5 hingga 115, sedangkan orang-orang Eropa memperoleh IQ maksimum
100, itupun sangat jarang dijumpai. Berbeda lagi jika dibandingkan dengan rata-rata
IQ orang Indonesia, orang Yahudi memperoleh rata-rata IQ 130, sedangkan
orang Indonesia hanya mencapai angka 90-100.
Menanggapi situasi ini, ada baiknya
jika kita mempelajari rahasia-rahasia penting yang dimiliki orang Yahu didalam
proses pengasahan kecerdasan Intelektual dan kejeniusan mereka sehingga mampu
menjadi bangsa yang lebih unggul dari bangsa lainnya.
Pertama, orang Yahudi selalu
mengasah ketajaman berimajinasi
Hal ini mereka lakukan sebagai
langkah awal untuk merangkai ide serta karya yang produktif dan konstruktif.
Apa yang dicapai para tokoh Yahudi yang menggugah dunia saat ini sebenarnya
berawal dari imajinasi mereka yang bertumpu pada pikiran dan otak yang aktif
merespon dinamika hasrat. Sebab orang Yahudi sangat meyakini bahwa imajinasi
bukan seke dari ilusi dan khayal belaka, tetapi imajinasi merupakan proses awal
untuk melahirkan kekuatan otak yang dapat mewujudkan karya-karya besar di dunia
nyata.
Kedua, Yahudi selalu hidup
serba terampil
Sebagai mana kebanyakan orang
miskin di Indonesia, orang Yahudi pun banyak mengalami hal yang sama, sulit
memperoleh sesuap nasi dan susah mencari pekerjaan. Namun yang membedakan
diantara keduanya ialah terletak pada keterampilan orang Yahudi yang lebih
cemerlang dalam menghadapi problematika hidup dibandingkan orang-orang miskin
Indonesia. Mereka memiliki kamus kehidupan bahwa dimana ada kesulitan pasti ada
solusi yang sejalan. Dengan kecerdasan keterampilan, disertakan dengan
perhitungan yang matang, maka inilah yang pada akhirnya membuat orang Yahudi
selalu mampu mengubah nasib mereka sendiri jauh menjadi lebih baik dari pada
sebelumnya.
Ketiga, orang Yahudi memiliki
mental dan jiwa besar
Orang-orang Yahudi merupakan identitas
kelompok pekerja keras dan orang-orang yang berani beradaptasi dengan
perkembangan industrialisasi, hal itu mereka lakukan agar mereka tidak menjadi
orang-orang yang termarjinalkan dalam aspek ekonomi. Orang Yahudi mengajarkan
kepada kita bahwa kemiskinan tidak selamanya disebabkan oleh pelayanan dan
kinerja pemerintah yang dinilai lamban. Namun yang lebih penting untuk kita
sadari adalah kemiskinan juga disebabkan oleh mental manusia yang kerdil dan
lemahnya peran keluarga dalam membentuk generasi yang tidak mudah
menyerah terhadap situasi dan kondisi apapun.
Keempat, orang Yahudi
memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
Kalangan akademis Yahudi
berpendapat bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan murid kepada guru
merupakan pertanda adanya kegiatan belajar mengajar, jika tidak ada respon dari
murid tentang pelajaran yang diterangkan oleh guru, maka kegiatan belajar
dianggap tidak ada. Inilah yang membuat para akademisi Yahudi akan selalu
melontarkan pertanyaan yang lebih luas tentang pelajaran yang diterangkan oleh
guru. Mereka tidak akan pernah puas sebelum mereka benar-benar mendapatkan
jawaban atas ilmu yang belum mereka ketahui sebelumnya atau yang masih mereka
ragukan.
Keempat, orang Yahudi
berprinsip tidak ada kata mutlak
Orang Yahudi berprinsip untuk
tidak pernah menerima sesuatu sebagai hal yang mutlak, mereka tidak menerima
ilmu sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya begitu. Dengan demikian
orang-orang Yahudi tidak pernah menyerah untuk terus berusaha, selalu
bereksperimen mengadakan penelitian, mencari sesuatu yang belum diketahui
sekali pun itu mustahil bagi orang lain. Namun hasil penelitian, konsep,
rumus, teori atau apapun namanya yang dihasilkan manusia tidaklah mutlak
bagi mereka, karena dihasilkan dari makhluk ciptaan yang terbatas, bersifat
subjektif, relatif, didibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan prinsip seperti
itu, maka otak mereka akan terangsang untuk berfikir dan memacu Intellegences.
Selain itu, orang yahudi pada umumnya lebih rendah hati karena apapun pendapat
mereka, hanyalah kebenaran relatif.
Kelima, orang Yahudi tidak
tidur di Pagi hari
Dalam sejarah, nenek moyang orang
Yahudi sangat membenci tidur pagi. Para orang tua selalu mendoktrin anak-anak
mereka bahwa tidur diwaktu pagi dapat mematikan hati dan membuat badan merasa
malas juga membuang-buang waktu. Pagi hari mereka manfaatkan untuk belajar,
menghafal atau mengasah daya ingat, bekerja, dan melakukan ketaatan sesuai
perintah dalam kitab Taurat. Bagi mereka pagi hari merupakan waktu yang sangat
sesuai untuk belajar dan beraktivitas karena didukung oleh kondisi otak yang
baru saja beristirahat panjang.
Dengan mengetahui kelima rahasia
kriteria dasar yang dimiliki orang-orang Yahudi, dapat ditarik kesimpulan bahwa
kecerdasan orang-orang Yahudi bukanlah mitos atau semata-mata takdir Tuhan,
melainkan ini juga dikarenakan orang-orang Yahudi selalu membiasakan melakukan
hal-hal yang unik dan cerdas yang mampu memberikan alasan logis mengapa orang
Yahudi lebih unggul dari bangsa lain. Bukanlah sesuatu yang mustahil bagi
golongan apapun termasuk umat islam untuk menyaingi kecerdasan mereka, dengan
syarat :mau mempelajari dan mengaplikasikan mengenai rahasia-rahasia ilmiah
dibalik kecerdasan mereka (Yahudi).

Maaf. Artikel ini bersumber dari mana saja? Terima kasih atas jawabannya.
BalasHapus