Zionisme adalah akidah dan metode
kerja Yahudi yang berasal dari Kitab Perjanjian Lama secara ringkas. Akidah ini
secara rinci dapat Anda temukan dalam Talmud: ajaran yang paling rasis juga
diskriminatif; sebuah kitab paling berbahaya yang pernah ada di muka bumi.
Louis Daste di dalam bukunya
'Yahudi dan Organisasi Rahasia' mengatakan; Dalam setiap perubahan pemikiran
besar terdapat pengaruh Yahudi baik yang nampak ataupun rahasia. Sepanjang
sejarah dunia, Yahudi memasukkan ribuan racun berbahaya.
Al-Quran sering menggunakan sebutan
Ahlul Kitab untuk kaum Yahudi, dan yang dimaksud Ahlul Kitab juga termasuk
orang-orang Nasrani, jadi Ahlul Kitab adalah sebutan untuk orang-orang Yahudi
dan Nasrani. Di antara beberapa surat dalam Al-Quran yang banyak menjelaskan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan kaum Yahudi adalah QS. Al Baqarah, Ali
'Imran, Al Maidah, At-Taubah.
"Sesungguhnya kamu dapati
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman
ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik". (QS.Al Ma'idah: 82)
Dalam buku "An Interview of Illan
Pappe, " Baudoin Loos menyebutkan seorang sejarawan Yahudi Illan Pappe
yang menyandang julukan "Orang Israel yang paling dibenci di Israel".
Pappe adalah salah seorang Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan
tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa orang Israel
bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab,
"Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang
dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik
dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di
sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah
persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir
tidak pernah ada, dan penuh kebencian. Orang itu memang penuh kebencian, tapi
penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam,
anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas
tanahnya."
Indoktrinasi terhadap anak-anak
Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya
"pedoman moral" bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi
bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah
hewan.
Penanaman doktrin rasisme yang
terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak
mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari
Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat
dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies.
Ary Serabi ingin mengetahui
perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak
Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary
memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata,
"Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan
pada mereka. "
Hasilnya sungguh mencengangkan.
Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak
Palestina. Mereka menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari
hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis? Salah satu surat ditulis oleh
seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada
anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:
"Sharon akan membunuh kalian
dan semua penduduk kampung... dan membakar jari-jari kalian dengan api.
Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak
kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah
dan rumah kami? ane mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa
yang akan dilakukan Sharon pada kalian...ha...ha...ha"
Bocah Israel itu menggambar sosok
Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang
meneteskan darah.
'Protocols of Learned Elders of
Zion' (Protokol Para Pemuka Agama Yahudi) adalah rencana praktis atau kertas
kerja untuk merealisasikan semua kandungan Taurat dan Talmud. Jika Talmud
merupakan buah pahit dari ajaran Perjanjian Lama (Taurat), maka Protokol Yahudi
ini merupakan kertas kerja yang meringkas semua ajaran Talmud kepada rencana
strategis modern dan kontemporer.
Metoda kerja yang dipakai oleh
'Protokol' untuk menghancurkan suatu masyarakat cukup jelas. Memahami metoda
itu penting jika seseorang ingin menemukan makna dari arus serta arus-balik
yang membuat orang menjadi frustrasi ketika mencoba memahami kekacauan keadaan
masa kini. Orang menjadi bingung dan hilang semangat oleh berbagai teori masa
kini dan suara-suara yang centang-perenang. Setiap suara atau teori itu
seakan-akan dapat dipercaya dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Kalau
saja kita dapat memahami makna dari suara yang centang-perenang dan berbagai
teori yang ambur-adul itu, maka hal itu akan menyadarkan kita bahwa kebingungan
dan hilangnya semangat masyarakat merupakan sasaran yang dituju oleh
'Protokol'. Ketidakpastian, keragu-raguan, kehilangan harapan, ketakutan,
semuanya ini merupakan reaksi yang diciptakan oleh program yang diuraikan di
dalam 'Protokol' yang diharapkan tercapai. Kondisi masyarakat dewasa ini
merupakan bukti efektifnya program tersebut.
Talmud Berbahaya
Agama Yahudi sebenarnya
bersumberkan dua pokok:
1. Kitab Taurat.
Kitab yang kita akui dan mengandung
wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa. Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi
yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat (Taurat ada
dua Versi : Taurat Asli dan Taurat Versi Perjanjian Lama yang sekarang). Mereka
ini disebut golongan 'Karaiyah', kelompok yang sepanjang sejarahnya paling
dibenci dan menjadi korban kedzaliman para pendeta Yahudi orthodoks.
2. Kitab Talmud. (bahasa Ibrani: תלמוד)
Jauh sebelum pena-pena para
intelektual dan sejarawan dunia menggores; sebelum para intelektual kawakan
dunia melakukan analisa dan penelitian, Al Qur'an dan Sunnah telah memaparkan
bukti-bukti yang menjelaskan bahwa para rabbi Yahudi telah mengubah dan menjual
ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah. Bahkan, mereka telah membuat
sebuah kitab sendiri yang sangat jauh dari akal sehat sebagai tandingan bagi
kitab Taurat. Itulah kitab Talmud, sebuah "buku hitam" Israel yang
paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan.
Keimanan orang Yahudi terhadap
Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab Perjanjian Lama, yang juga dikenal dengan
nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud 'Erubin' 2b
(edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi. "Wahai anakku,
hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud)
daripada ayat-ayat Taurat.
Para pendeta Talmud mengklaim
sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan
oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab
Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti bentuknya yang sekarang. Nabi Isa
a.s. sendiri mengutuk tradisi 'mishnah' (Talmud awal), termasuk mereka yang
mengajarkannya (para hachom Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud
seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen,
karena ketidak-pahamannya, hingga dewasa ini menyangka Perjanjian Lama
merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru. Para pendeta
Farisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (guru
agama), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud
mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, dan bahkan tidak mendukung
isi Taurat. Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya 'Judaism on
Trial', mengutip pernyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa "Tanpa Talmud,
kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat ... Tuhan telah melimpahkan
wewenang ini kepada mereka yang arif, karena tradisI merupakan suatu kebutuhan
yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka ...
dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin mampu
memahami Taurat."
Terhadap tradisi 'mishnah' itu para
pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang mereka sebut 'Gemarah' (kitab
"tafsir" dari para pendeta). Tradisi 'mishnah' (yang kemudian dibukukan)
bersama dengan "Gemarah', itulah yang disebut Talmud. Ada dua buah versi
Kitab Talmud, yaitu 'Talmud Jerusalem' dan 'Talmud Babilonia'. 'Talmud
Babilonia' adalah kitab yang paling otoritatif.
Dalam Al-Quran, surat At-Taubah,
ayat 30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan
orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah
itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang
kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai
berpaling?
Dari ayat ini nampak jelas bahwa
orang-orang Yahudi telah menghina Allah, karena telah menyamakan Allah dengan
makhluk-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak beranak dan juga tidak
diperanakkan, (QS 112:3).
Dalam tafsir Al Marâghi dijelaskan
bahwa 'Uzair adalah seorang pendeta (kâhin) Yahudi, ia hidup sekitar 457 SM.
Menurut kepercayaan orang-orang Yahudi 'Uzair adalah orang yang telah
mengumpulkan kembali wahyu-wahyu Allah di kitab At Taurat yang sudah hilang
sebelum masa Nabi Sulaiman as. Sehingga segala sumber yang yang dijadikan
rujukan utama adalah yang berasal dari 'Uzair, karena menurut kaum Yahudi waktu
itu 'Uzair adalah satu-satunya sosok yang paling diagungkan, maka sebagian
mereka akhirnya menisbatkan 'uzair sebagai anak Allah. Sebagaimana kita ketahui
bersama bahwa penyelewengan dalam masalah akidah merupakan tindakan yang sangat
sesat, karena sekitar 1/3 dari kandungan Al-Quran menjelaskan tentang
akidah/kepercayaan atas semua rukun iman yang harus diyakini oleh setiap manusia.
Sebagaimana Firman Allah swt dalam Al Qur'an :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani
tidak pernah akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.
Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan
sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)
sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)
Tidak mudah untuk menjelaskan
eksistensi gerakan rahasia kaum zionis. Bukan saja karena sifatnya yang
rahasia, tetapi tenggang waktu gerakannya yang sudah berlangsung ratusan tahun
dan warna sejarahnya yang panjang menyebabkan berbagai spekulasi dan hipotesis
tentang gerakan tersebut. Memang pada awalnya, zionisme lahir dari aspirasi
kaum Yahudi untuk memenuhi panggilan “tanah yang dijanjikan” atau Ezrat
Yisrail. Akan tetapi, dalam perkembangannya, zionisme menjadi sebuah ideologi
imperialisme baru yang ingin “menguasai” dunia dengan melemahkan potensi umat
beragama termasuk agama Yahudi itu sendiri. Dengan kata lain, zionis adalah
Yahudi sedangkan zionisme adalah ideologi atau gerakan
sekuler-materialistis berskala internasional untuk mengkafirkan umat beragama.
Di samping itu, keyakinan-keyakinan
terhadap agama, serta berbagai kontroversi sekitar ketuhanan Yesus dan kedatangannya
kembali ke dunia menjadi suatu bahan kajian kaum zionis, yang melahirkan
berbagai pemikiran pencerahan berupa mistik atau bid’ah yang bertentangan dengan
konvesi di lingkungan Gereja.
Gerakan zionisme berkaitan dengan
sejarah kaum Yahudi itu sendiri. Suatu bangsa yang sangat unik, yang bertebaran
ke berbagai sudut dunia yang dihubungkannya dengan simbol angka “13″ yang bila
dijumlahkan menjadi 4 (1+3), yang menunjukkan cita-cita mewujudkan kesatuan
dunia serta panggilan seluruh bangsa Yahudi yang tersebar (diaspora) di empat
penjuru angin: utara, timur, selatan, dan barat. 2
Sebagaimana kita ketahui, sejak
pembuangan di Babel, 3 kaum Yahudi mulai bertebaran (diaspora terserak) ke
seluruh pelosok dunia. Oleh karena waktu yang cukup lama, hal ini menyebabkan
mereka tidak lagi menjadikan bahasa Ibrani sebagai bahasa sehari-hari,
melainkan mereka menggunakan bahasa Yunani (Koine). Juga oleh sebab, Injil
Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sekitar 200 SM. Dan
pertama kali terbit di Mesir dengan nama Septuaginta 4 dan menurut hikayat
alasan memberi nama Septuaginta dikarenakan disusun oleh tujuh puluh ahli
bahasa yang mengarangnya –Berkhof dan Enklaar 1996.
Betapa pun penyebaran mereka ke
berbagai kelompok. Ikatan kesejarahan, emosi, dan khususnya keyakinan akan
kitab sucinya serta kebanggaan pada jati dirinya sebagai bangsa pilihan tuhan
(the choosen people) telah membentuk bangsa tersebut untuk selalu menjadi
pembicaraan di atas panggung sejarah peradaban manusia. Penderitaan dan
kekecewaan bersatu padu dalam cinta dan harapan, sehingga melahirkan satu
bangsa yang unik. Falsafah hidupnya selalu melambangkan jiwanya yang penuh
dengan tantangan. Pandangan hidupnya yang bertumpu pada kekuatan,
kebijaksanaan, kemanusiaan, dan cinta –dengan karakternya yang cerdik dan
licik– menyebabkan lahirnya tokoh-tokoh dunia di segala bidang. Sederetan nama,
seperti Karl Marx (tokoh komunis), Friedrich Wilhelm Nietzsche (seorang filosof
kontroversial), Albert Einstein (teori relativitas), Steven Spielberg (sineas
Amerika), dan sebagainya.
Begitu rapinya organisasi ini, baik dalam bentuk maupun kecerdasannya yang tinggi dalam menyiasati gerak kehidupan manusia. Menyebabkan seluruh jaringan serta aspirasinya secara sangat halus telah membentuk warna dunia global, seperti yang kita rasakan saat ini. Seorang musuh Yahudi yang paling membencinya sekalipun tanpa terasa akan mendukung “warna” budaya Yahudi. Keberhasilannya membangun kerajaan teknologi informasi, industri, dan keuangan, menyebabkan mereka mudah untuk mengontrol gerak dan denyut perkembangan suatu bangsa dan pemerintahannya.
Untuk mewujudkan cita-cita mereka
tersebut, berbagai bidang strategis harus dikuasainya dan tidak memberikan
peluang kepada selain Yahudi (goyim).
Mereka menguasai dunia informasi karena dibutuhkan satu global image yang
positif untuk kelangsungan kegiatannya dalam jangka panjang. Mereka kuasai
seluruh lembaga keuangan dunia, karena dengan menguasai perekonomian global,
roda kehidupan suatu bangsa lebih mudah mereka kontrol, dan sekaligus membuka
jalan menuju cita-citanya kembali ke tanah yang dijanjikan (zion).
Tidak hanya di bidang
materi-teknologi informasi dan lembaga keuangan tapi di bidang filsafat dan
agama pun mereka sangat gigih untuk melakukan reformasi pemikiran. Walaupun
pada akhir perkembangan reformasinya lebih
mengarah kepada agama palsu (pseudo-religion) dalam bentuk aliran kebatinan,
mistik (occultism), takhayul (supertition)– dengan cerdik mereka pun mencoba
menantang dominasi kekuasaan Gereja Katolik Roma, dan lahirlah saksi Jehovah
(Jehovah witnesses) yang cenderung mengubah seluruh penafsiran baru terhadap
Bibel, terutama Perjanjian Lama. Secara terselubung, mereka menolak Yesus
sebagai Kristus. Bahkan, debat yang panjang antara Jehovah, Adventis,
Protestan, Katolik, dan Pantekosta, sekitar teologi Kristus dan Yesus terus
berlangsung sampai saat ini.
Iluminasi yang diartikan sebagai
“penerangan” (enlightenment) serta gerakan organisasi freemason 5 telah
dianggap kelompok bid’ah, berkaitan dengan cara mereka menafsirkan Kristus dan
penolakan terhadap Yesus sebagai Mesiah serta penafsiran radikal dan tata cara
ritual yang telah dianggap terlepas dari akarnya.
Para anggota freemason secara
definitif (pasti) menolak sama sekali kekuasaan Katolik Roma yang mereka anggap
sebuah tiran yang harus dimusnahkan. Mereka mengatakan, :
“Apabila didefinisikan, rezim gereja adalah tirani bagi freemason, sebab jika mereka (rezim gereja) hendak membuat dogma atau peraturan tidak perlu seizin pemerintah. Karena alasan inilah, freemason selalu berlawanan dengan Gereja Katolik Roma, sejak mengklaim bahwa kekuasaan Tuhanlah yang mengatur sesuatu yang gaib.”
“Apabila didefinisikan, rezim gereja adalah tirani bagi freemason, sebab jika mereka (rezim gereja) hendak membuat dogma atau peraturan tidak perlu seizin pemerintah. Karena alasan inilah, freemason selalu berlawanan dengan Gereja Katolik Roma, sejak mengklaim bahwa kekuasaan Tuhanlah yang mengatur sesuatu yang gaib.”
Sumber :

0 komentar:
Posting Komentar