Recent Posts

Minggu, 06 Oktober 2013

Bahaya Zionisme



Zionisme adalah akidah dan metode kerja Yahudi yang berasal dari Kitab Perjanjian Lama secara ringkas. Akidah ini secara rinci dapat Anda temukan dalam Talmud: ajaran yang paling rasis juga diskriminatif; sebuah kitab paling berbahaya yang pernah ada di muka bumi.
Louis Daste di dalam bukunya 'Yahudi dan Organisasi Rahasia' mengatakan; Dalam setiap perubahan pemikiran besar terdapat pengaruh Yahudi baik yang nampak ataupun rahasia. Sepanjang sejarah dunia, Yahudi memasukkan ribuan racun berbahaya.

Al-Quran sering menggunakan sebutan Ahlul Kitab untuk kaum Yahudi, dan yang dimaksud Ahlul Kitab juga termasuk orang-orang Nasrani, jadi Ahlul Kitab adalah sebutan untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di antara beberapa surat dalam Al-Quran yang banyak menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kaum Yahudi adalah QS. Al Baqarah, Ali 'Imran, Al Maidah, At-Taubah.
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik". (QS.Al Ma'idah: 82)


Dalam buku "An Interview of Illan Pappe, " Baudoin Loos menyebutkan seorang sejarawan Yahudi Illan Pappe yang menyandang julukan "Orang Israel yang paling dibenci di Israel". Pappe adalah salah seorang Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, "Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian. Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya."

Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya "pedoman moral" bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan.
Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies.
Ary Serabi ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, "Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. "

Hasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina. Mereka menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis? Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:
"Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung... dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? ane mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian...ha...ha...ha"
Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.

'Protocols of Learned Elders of Zion' (Protokol Para Pemuka Agama Yahudi) adalah rencana praktis atau kertas kerja untuk merealisasikan semua kandungan Taurat dan Talmud. Jika Talmud merupakan buah pahit dari ajaran Perjanjian Lama (Taurat), maka Protokol Yahudi ini merupakan kertas kerja yang meringkas semua ajaran Talmud kepada rencana strategis modern dan kontemporer.
Metoda kerja yang dipakai oleh 'Protokol' untuk menghancurkan suatu masyarakat cukup jelas. Memahami metoda itu penting jika seseorang ingin menemukan makna dari arus serta arus-balik yang membuat orang menjadi frustrasi ketika mencoba memahami kekacauan keadaan masa kini. Orang menjadi bingung dan hilang semangat oleh berbagai teori masa kini dan suara-suara yang centang-perenang. Setiap suara atau teori itu seakan-akan dapat dipercaya dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Kalau saja kita dapat memahami makna dari suara yang centang-perenang dan berbagai teori yang ambur-adul itu, maka hal itu akan menyadarkan kita bahwa kebingungan dan hilangnya semangat masyarakat merupakan sasaran yang dituju oleh 'Protokol'. Ketidakpastian, keragu-raguan, kehilangan harapan, ketakutan, semuanya ini merupakan reaksi yang diciptakan oleh program yang diuraikan di dalam 'Protokol' yang diharapkan tercapai. Kondisi masyarakat dewasa ini merupakan bukti efektifnya program tersebut.

Talmud Berbahaya
Agama Yahudi sebenarnya bersumberkan dua pokok:

1. Kitab Taurat.

Kitab yang kita akui dan mengandung wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa. Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat (Taurat ada dua Versi : Taurat Asli dan Taurat Versi Perjanjian Lama yang sekarang). Mereka ini disebut golongan 'Karaiyah', kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci dan menjadi korban kedzaliman para pendeta Yahudi orthodoks.

2. Kitab Talmud. (bahasa Ibrani: תלמוד)

Jauh sebelum pena-pena para intelektual dan sejarawan dunia menggores; sebelum para intelektual kawakan dunia melakukan analisa dan penelitian, Al Qur'an dan Sunnah telah memaparkan bukti-bukti yang menjelaskan bahwa para rabbi Yahudi telah mengubah dan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah. Bahkan, mereka telah membuat sebuah kitab sendiri yang sangat jauh dari akal sehat sebagai tandingan bagi kitab Taurat. Itulah kitab Talmud, sebuah "buku hitam" Israel yang paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan.
Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab Perjanjian Lama, yang juga dikenal dengan nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud 'Erubin' 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi. "Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat. 

Para pendeta Talmud mengklaim sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti bentuknya yang sekarang. Nabi Isa a.s. sendiri mengutuk tradisi 'mishnah' (Talmud awal), termasuk mereka yang mengajarkannya (para hachom Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen, karena ketidak-pahamannya, hingga dewasa ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru. Para pendeta Farisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (guru agama), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, dan bahkan tidak mendukung isi Taurat. Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya 'Judaism on Trial', mengutip pernyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa "Tanpa Talmud, kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat ... Tuhan telah melimpahkan wewenang ini kepada mereka yang arif, karena tradisI merupakan suatu kebutuhan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka ... dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin mampu memahami Taurat."

Terhadap tradisi 'mishnah' itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang mereka sebut 'Gemarah' (kitab "tafsir" dari para pendeta). Tradisi 'mishnah' (yang kemudian dibukukan) bersama dengan "Gemarah', itulah yang disebut Talmud. Ada dua buah versi Kitab Talmud, yaitu 'Talmud Jerusalem' dan 'Talmud Babilonia'. 'Talmud Babilonia' adalah kitab yang paling otoritatif.
Dalam Al-Quran, surat At-Taubah, ayat 30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?
Dari ayat ini nampak jelas bahwa orang-orang Yahudi telah menghina Allah, karena telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, (QS 112:3).

Dalam tafsir Al Marâghi dijelaskan bahwa 'Uzair adalah seorang pendeta (kâhin) Yahudi, ia hidup sekitar 457 SM. Menurut kepercayaan orang-orang Yahudi 'Uzair adalah orang yang telah mengumpulkan kembali wahyu-wahyu Allah di kitab At Taurat yang sudah hilang sebelum masa Nabi Sulaiman as. Sehingga segala sumber yang yang dijadikan rujukan utama adalah yang berasal dari 'Uzair, karena menurut kaum Yahudi waktu itu 'Uzair adalah satu-satunya sosok yang paling diagungkan, maka sebagian mereka akhirnya menisbatkan 'uzair sebagai anak Allah. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penyelewengan dalam masalah akidah merupakan tindakan yang sangat sesat, karena sekitar 1/3 dari kandungan Al-Quran menjelaskan tentang akidah/kepercayaan atas semua rukun iman yang harus diyakini oleh setiap manusia. 
Sebagaimana Firman Allah swt dalam Al Qur'an :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak pernah akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan
sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)

Tidak mudah untuk menjelaskan eksistensi gerakan rahasia kaum zionis. Bukan saja karena sifatnya yang rahasia, tetapi tenggang waktu gerakannya yang sudah berlangsung ratusan tahun dan warna sejarahnya yang panjang menyebabkan berbagai spekulasi dan hipotesis tentang gerakan tersebut. Memang pada awalnya, zionisme lahir dari aspirasi kaum Yahudi untuk memenuhi panggilan “tanah yang dijanjikan” atau Ezrat Yisrail. Akan tetapi, dalam perkembangannya, zionisme menjadi sebuah ideologi imperialisme baru yang ingin “menguasai” dunia dengan melemahkan potensi umat beragama termasuk agama Yahudi itu sendiri. Dengan kata lain, zionis adalah Yahudi sedangkan zionisme adalah ideologi atau gerakan sekuler-materialistis berskala internasional untuk mengkafirkan umat beragama.

Di samping itu, keyakinan-keyakinan terhadap agama, serta berbagai kontroversi sekitar ketuhanan Yesus dan kedatangannya kembali ke dunia menjadi suatu bahan kajian kaum zionis, yang melahirkan berbagai pemikiran pencerahan berupa mistik atau bid’ah yang bertentangan dengan konvesi di lingkungan Gereja.
Gerakan zionisme berkaitan dengan sejarah kaum Yahudi itu sendiri. Suatu bangsa yang sangat unik, yang bertebaran ke berbagai sudut dunia yang dihubungkannya dengan simbol angka “13″ yang bila dijumlahkan menjadi 4 (1+3), yang menunjukkan cita-cita mewujudkan kesatuan dunia serta panggilan seluruh bangsa Yahudi yang tersebar (diaspora) di empat penjuru angin: utara, timur, selatan, dan barat. 2

Sebagaimana kita ketahui, sejak pembuangan di Babel, 3 kaum Yahudi mulai bertebaran (diaspora terserak) ke seluruh pelosok dunia. Oleh karena waktu yang cukup lama, hal ini menyebabkan mereka tidak lagi menjadikan bahasa Ibrani sebagai bahasa sehari-hari, melainkan mereka menggunakan bahasa Yunani (Koine). Juga oleh sebab, Injil Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sekitar 200 SM. Dan pertama kali terbit di Mesir dengan nama Septuaginta 4 dan menurut hikayat alasan memberi nama Septuaginta dikarenakan disusun oleh tujuh puluh ahli bahasa yang mengarangnya –Berkhof dan Enklaar 1996.

Betapa pun penyebaran mereka ke berbagai kelompok. Ikatan kesejarahan, emosi, dan khususnya keyakinan akan kitab sucinya serta kebanggaan pada jati dirinya sebagai bangsa pilihan tuhan (the choosen people) telah membentuk bangsa tersebut untuk selalu menjadi pembicaraan di atas panggung sejarah peradaban manusia. Penderitaan dan kekecewaan bersatu padu dalam cinta dan harapan, sehingga melahirkan satu bangsa yang unik. Falsafah hidupnya selalu melambangkan jiwanya yang penuh dengan tantangan. Pandangan hidupnya yang bertumpu pada kekuatan, kebijaksanaan, kemanusiaan, dan cinta –dengan karakternya yang cerdik dan licik– menyebabkan lahirnya tokoh-tokoh dunia di segala bidang. Sederetan nama, seperti Karl Marx (tokoh komunis), Friedrich Wilhelm Nietzsche (seorang filosof kontroversial), Albert Einstein (teori relativitas), Steven Spielberg (sineas Amerika), dan sebagainya.

Begitu rapinya organisasi ini, baik dalam bentuk maupun kecerdasannya yang tinggi dalam menyiasati gerak kehidupan manusia. Menyebabkan seluruh jaringan serta aspirasinya secara sangat halus telah membentuk warna dunia global, seperti yang kita rasakan saat ini. Seorang musuh Yahudi yang paling membencinya sekalipun tanpa terasa akan mendukung “warna” budaya Yahudi. Keberhasilannya membangun kerajaan teknologi informasi, industri, dan keuangan, menyebabkan mereka mudah untuk mengontrol gerak dan denyut perkembangan suatu bangsa dan pemerintahannya.
Untuk mewujudkan cita-cita mereka tersebut, berbagai bidang strategis harus dikuasainya dan tidak memberikan peluang kepada selain Yahudi (goyim). Mereka menguasai dunia informasi karena dibutuhkan satu global image yang positif untuk kelangsungan kegiatannya dalam jangka panjang. Mereka kuasai seluruh lembaga keuangan dunia, karena dengan menguasai perekonomian global, roda kehidupan suatu bangsa lebih mudah mereka kontrol, dan sekaligus membuka jalan menuju cita-citanya kembali ke tanah yang dijanjikan (zion).

Tidak hanya di bidang materi-teknologi informasi dan lembaga keuangan tapi di bidang filsafat dan agama pun mereka sangat gigih untuk melakukan reformasi pemikiran. Walaupun pada akhir perkembangan reformasinya  lebih mengarah kepada agama palsu (pseudo-religion) dalam bentuk aliran kebatinan, mistik (occultism), takhayul (supertition)– dengan cerdik mereka pun mencoba menantang dominasi kekuasaan Gereja Katolik Roma, dan lahirlah saksi Jehovah (Jehovah witnesses) yang cenderung mengubah seluruh penafsiran baru terhadap Bibel, terutama Perjanjian Lama. Secara terselubung, mereka menolak Yesus sebagai Kristus. Bahkan, debat yang panjang antara Jehovah, Adventis, Protestan, Katolik, dan Pantekosta, sekitar teologi Kristus dan Yesus terus berlangsung sampai saat ini.
Iluminasi yang diartikan sebagai “penerangan” (enlightenment) serta gerakan organisasi freemason 5 telah dianggap kelompok bid’ah, berkaitan dengan cara mereka menafsirkan Kristus dan penolakan terhadap Yesus sebagai Mesiah serta penafsiran radikal dan tata cara ritual yang telah dianggap terlepas dari akarnya.

Para anggota freemason secara definitif (pasti) menolak sama sekali kekuasaan Katolik Roma yang mereka anggap sebuah tiran yang harus dimusnahkan. Mereka mengatakan, :
“Apabila didefinisikan, rezim gereja adalah tirani bagi freemason, sebab jika mereka (rezim gereja) hendak membuat dogma atau peraturan tidak perlu seizin pemerintah. Karena alasan inilah, freemason selalu berlawanan dengan Gereja Katolik Roma, sejak mengklaim bahwa kekuasaan Tuhanlah yang mengatur sesuatu yang gaib.”

Sumber : 


0 komentar:

Posting Komentar