Kali ini saya akan membahas tentang masa keemasan Islam dimana banyak ilmuwan muslim yang memberikan kontribusi besar bagi dunia pengetahuan. Tapi sayangnya sebagian besar masyarakat tidak mengetahui hal ini dan mereka malah menganggap ilmuwan-ilmuwan Barat seperti Da Vinci, Einstein, Darwin, Thomas Alfa Edison dan sebagainyalah yang berjasa bagi kemajuan teknologi dan pengetahuan. Padahal mereka sebenarnya bukan pencetus kemajuan teknologi tapi hanya sebagai penerus ilmu pengetahuan dari Islam dan mereka hanya mencontek teori2 dari buku2 ilmuwan muslim Arab dan Persia. Silakan simak fakta sejarahnya dibawah. Selamat membaca.
Masa Keemasan Islam
Masa Keemasan Islam
Kejayaan Islam dalam membangun
peradaban manusia tidak bisa dibantah. Dalam sejarah peradaban Islam tercatat
tinta emas bagaimana para sahabat dengan semangat mempelajari ilmu pengetahuan
baik dari al-Qur’an dan hadis. Kemudian melahirkan berbagai cabang ilmu
pengetahuan yang diaplikasikan ke dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Pada abad I Hijriyah begitu
semangatnya para sahabat belajar langsung kepada Rasulullah SAW. Mereka
menghafal setiap ayat al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah SAW, bahkan karena
takut lupa mereka mencatat di kulit, tulang, dan berbagai macam media lainnya.
Mereka kemudian
mengklasifikasikannya dalam berbagai bidang seperti ilmu fikih, akidah, ahklak,
hukum, tauhid, faraid, kalam, filsafat, matematika, bahasa, mantiq
dan lain sebagainya. Dari sini muncul tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh
dari generasi ke generasi. Pada generasi sahabat, misalnya, terdapat Abu Bakar
Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah
bin Mas`ud, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas dan lain sebagainya. Dengan
ilmu pengetahuan dasar tauhid, akidah dan akhlak lahirlah semangat untuk
mencintai ilmu pengetahuan sampai pada masa tabi’in, hingga masa kekhalifahan
Umayyah dan Abasiyah.
Pada masa Harun Ar-Rasyid, khalifah
kelima Abbasiyah dilanjutkan khalifah Ma’mun Ar-Rasyid, Islam berkembang pesat.
Dimana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.
Beberapa bukti kejayaan itu antara lain kekhalifahan Islam berhasil mewujudkan
keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat.
Membangun kota Baghdad yang
terletak di antara sungai Eufrat dan Tigris dengan bangunan-bangunan megah.
Yang tidak kalah pentingnya adalah membangun tempat-tempat peribadatan, sarana
pendidikan, kesenian, kesehatan, dan perdagangan. Bahkan pada saat itu juga
didirikan Baitul Hikmah, sebagai pusat penelitian dan kajian yang menyedot
minat pelajar dari seluruh penjuru dunia untuk menempuh pendidikan perguruan
tinggi, melakukan penelitian dan studi kepustakaan.
Dikenalkan pula semacam majelis al-muzakarah,
yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di
rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana. Hal ini membuktikan bagaimana
pemerintah sangat memperhatikan para ilmuwan dengan memberikan berbagai macam
fasilitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipadukan
dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah pada saat itu.
Kemajuan ilmu dan Keluhuran Akhlak
Pada zaman kemajuan peradaban Islam
abad ke-7 sampai 17 tak hanya melahirkan generasi yang mumpuni di bidang
keagamaan tapi juga berbagai ilmu pengetahuan. Era itu banyak melahirkan para
ilmuwan di berbagai bidang dengan berbagai temuan teori-teori baru yang menjadi
sumbangan besar bagi sejarah peradaban dunia.
Di bidang matematika misalnya, para
pakar matematika Muslim telah memberi kontribusi nyata dan menemukan berbagai
macam teori di bidang matematika seperti yang kita kenal sekarang. Mereka
menemukan sistem bilangan desimal, sistem operasi dalam matematika seperti
penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, eksponensial, dan penarikan
akar.
Tak cuma itu, mereka juga
memperkenalkan angka-angka dan lambang bilangan, termasuk angka “nol” (zero).
Mereka antara lain juga menemukan persamaan kuadrat, algoritma, fungsi sinus,
cosinus, tangen, cotangen, dan lain-lain. Pakar matematika Muslim itu antara
lain : al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Karaji, al-Battani, al-Biruni, dan Umar
Khayyam.
Di kalangan masyarakat Barat,
al-Khawarizmi lebih dikenal dengan nama Algorisme atau Algoritme. Ia telah
banyak menemukan teori-teori dalam matematika dan populer dengan sebutan Bapak
Aljabar. Teori Aljabar itu ia tulis dalam kitabnya yang bertajuk Kitab
Al-Jabr wal Muqabalah atau buku tentang pengembalian dan pembandingan.
Teori ‘algoritme’ dalam matematika modern diambil dari namanya, karena dialah
yang pertama kali mengembangkannya.
Sementara di bidang kimia ada nama
Jabir Ibnu Hayyan, al-Biruni, Ibnu Sina, ar-Razi, dan al-Majriti. Jabir Ibnu
Hayyan yang telah memperkenalkan eksperimen (percobaan) kimia mendapat predikat
‘Bapak Kimia Modern’. Sementara dalam bidang biologi para ilmuwan Muslim yang
ikut memberikan kontribusi besar antara lain al-Jahiz, al-Qazwini, al-Damiri,
Abu Zakariya Yahya, Abdullah Ibn Ahmad Bin Al-Baytar, dan al-Mashudi.
Al-Jahiz adalah pencetus pertama teori evolusi. Sayang namanya tidak disebutkan dalam buku-buku pelajaran biologi di sekolah maupun di perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa lebih mengenal nama Charles Darwin, ilmuwan yang hidup seribu tahun sepeninggal al-Jahiz.
Sedangkan di bidang fisika ada Ibn
Al-Haitham, Ibnu Bajjah, al-Farisi dan Fakhruddin Ar-Razi. Selain jago fisika,
Fakhruddin Ar-Razi juga jago matematika, astronomi, dan ahli kedokteran. Ia
adalah Ulama yang Intelek. Seorang mufassir yang ahli kedokteran, juga seorang
faqih yang jago matematika.
Para ilmuwan Muslim yang hidup di
era keemasan Islam itu memang jago di bidang ilmu kealaman, sekaligus pakar
agama. Mereka ahli tafsir, ahli hadis, dan bidang-bidang lainnya. Hal ini
semakin memperkokoh perkembangan sains Islam yang melahirkan berbagai disiplin
ilmu pengetahuan serta
menjadi kontribusi besar dari umat
Islam untuk membangun peradaban dunia.
Fakta ini diamini oleh Sejarawan
Barat, W Montgomery Watt. Dalam analisanya tentang rahasia kemajuan peradaban
Islam. Ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal
pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu
dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat
Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset
ilmiah. Dengan kata lain Islam tidak mengenal sekulerisme
Peradaban Islam memang mengalami
jatuh-bangun, berbagai peristiwa telah menghiasi perjalanannya. Meski demikian,
orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil
ditorehkannya untuk umat manusia ini. Pencerahan pun terjadi di segala bidang
dan di seluruh dunia.
Gustave Lebon memberi kesaksiannya,
bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir
menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan
tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak
hanya itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah
yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo
da Vinci, Arnold de Philipi, Thomas Alfa Edison, Raymond Lull, Santo Thomas, Albertus Magnus
dan Alfonso X dari Castella.
Kemajuan Barat yang timpang
Sangat disayangkan ketika kemampuan
ulama Islam ini mulai mengundang perhatian dunia Barat. Ilmuwan Barat membangun
peradaban dunia dengan teknologi modern namun meninggalkan nilai-nilai ajaran
Islam. Tonggak sejarah peradaban Barat terjadi pada masa renaissance Eropa
pada abad ke-15 M dimana mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dari Islam,
namun berusaha membebaskan diri dari pengaruh ajaran agama.
Karena tidak didukung dengan
pemahaman agama, hasil peradaban yang mereka bangun berorientasi sekuler dan
liberal. Lalu berkembang pemahaman yang memisahkan antara kepentingan dunia dan
akhirat. Akhirnya muncul pemikiran dan berbagai peraturan yang menginginkan
adanya pemisahan antara negara dan agama. Tanpa disadari peradaban sekuler dan
liberal ini berhasil menjauhkan manusia dari ajaran agama.
Disini terjadi perbedaan yang
menonjol antara orientasi peradaban umat Islam dan orientasi peradaban Barat.
Masyarakat sekuler dan liberal cenderung menghendaki dunia yang bebas tanpa
aturan agama. Doktrin agama bagi mereka dianggap sebagai racun penghalang
kemajuan zaman.
Hal ini yang membuat situasi dan
kondisi jauh berbeda dengan kondisi ketika Islam mencapai puncak kejayaan
antara lain; ketika Islam meraih puncak keemasan, peradaban manusia dibangun dengan dasar akhlak dan tauhid.
Sementara pada masa renaissance Eropa, kondisi justru
sebaliknya, dimana terjadi pergeseran nilai-nilai peradaban yang semula
berorientasi kepada akhlak yang mulia, pengetahuan dan pemahaman agama, berubah
menjadi peradaban yang berorientasi pada kehidupan dunia (materialistik).
Menurut Sekjen Majelis Intelektual
Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir Lc, beberapa kelompok yang tidak
menghendaki kejayaan Islam membuat sekenario besar (grand design) untuk
menghancuran Islam dari dalam. Selain itu, ada pula pendekatan
kalangan Muslim sendiri yang keliru dalam konsep dan praktiknya. Misalnya ide
iman dan taqwa (Imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Awalnya, ide ini bagus tapi membuat pesantren kehilangan fungsinya sebagai
tempat bertafaqquh fid din sehingga keduniaannya lebih menonjol.
Demikian juga yang terjadi di beberapa perguruan tinggi Islam jurusan bahasa
Arab, ushuluddin, dakwah dan jurusan-jurusan lain semakin sepi.
Dari sisi lain, pendekatan ini juga
bisa dilakukan kelompok di luar Islam untuk melancarkan salah satu misinya
yaitu deradikalisasi Islam. Namun tidak menyurutkan semangat para ulama dan
para santri untuk memperdalam ilmu-ilmu dasar agama. “Jadi kalau saya melihat
deradikalisasi ini adalah bentuk serangan sekaligus keputusasaan kelompok
sekuler dan liberal dalam menghancuran Islam,” terangnya.
Pada dasarnya peradaban dunia yang
sekuler dan liberal menjadikan manusia sebagai makhluk penguasa yang serakah.
Akidah dan akhlak mereka semakin tidak terkontrol dan menjadikan perilaku
mereka seperti binatang. Ketika Islam jaya, tidak akan membiarkan negeri
manapun terjajah oleh negeri lain. Kesatuan dan kebersamaan selalu dijaga
dengan mengedepankan saling menghormati dan menghargai.
Berbeda ketika dunia Barat
menancapkan hegemoninya di dunia, mereka selalu berusaha melemahkan negara lain
agar lebih mudah menguasai sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan sumber daya
manusianya. Hal ini pengaruh dari orientasi renaissance Eropa
yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang bebas menentukan pilihan sendiri
dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam.
Maka tidak bisa dipungkiri bahwa
kemajuan seseorang dimanapun tidak bisa lepas dari ajaran agama Islam. Dalam
bidang apapun baik ilmu pengetahuan, politik, sosial, budaya, ketahanan dan
keamanan negara, al-Qur’an dan hadis menjadi sumber dasar hukum dan pedoman
hidup. Dengan menjadikan al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman hidup maka
orientasi yang terbangun untuk membangun peradaban adalah mencapai kejayaan,
tidak untuk dirinya sendiri tapi untuk seluruh alam.
Inilah yang disebut konsep Islam rahmatan
lil `alamin bahwa Islam tidak merusak tapi membangun peradaban.
Berbeda jauh dengan orang yang belajar ilmu pengetahuan tanpa didasari ajaran
agama, orientasi dari orang tersebut cenderung merusak, liberal dan sekuler.


.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar